Hidup Adalah Sebuah Perjalanan.

By Tasha.

Hidup adalah sebuah perjalanan. Demikian salah seorang guru kehidupan pernah berkata. Dan karana hidup adalah sebuah perjalanan, maka tugas kita hanya berjalan dan terus berjalan, hingga kita sampai di tempat tujuan.
Perjalanan macam apakah kehidupan? Berjalan kemanakah kehidupan kita? Bagaimanakah kita menjalani kehidupan kita?
Pertanyaan seperti itulah yang akan muncul jika kita menganalogikan kehidupan seperti sebuah perjalanan.
Perjalanan kehidupan kita dimulai dari awal kedatangan kita di dunia ini, keluar dari rahim seorang ibu, dan mulai mendapatkan kasih sayang serta bermacam-macam berkah. Kemudian kita sedikit demi sedikit bertumbuh menjadi seorang manusia yang memiliki kepribadiannya sendiri. Kita mulai menentukan pilihan kita, mulai berputar dalam perilaku baik buruk, mulai terbingungkan oleh realita dan idealism, mulai tidak mengerti, mulai menyerah, lalu mulai tercerahkan lagi.
Banyak hal yang kita alami dalam kehidupan. Sangat banyak. Apa pun yang kita alami, bagaimana pun kehidupan kita, yang harus kita lakukan adalah tetap berjalan, terus berjalan melangkah dalam kehidupan kita.
Namun terkadang kita dipaksa untuk menyerah, dipaksa untuk berhenti melangkah. Ada kalanya kita menjadi demikian putus asa, merasa tak berdaya dan tak mampu lagi melakukan apa-apa. Ada saat-saat dimana kita berada dalam titik nadir, berada dan tenggelam begitu jauh di lembah kesukaran. Entah apa masalah atau alasan dibalik kesukaran itu, namun kebanyakan kita pasti pernah mengalami hal semacam itu. Dalam kondisi atau keadaan itu,fiikiran kita yang telah sama lelahnya dengan berbagai aspek dalam kehidupan kita mungkin berbisik, “aku menyerah. Aku tak sanggup untuk berjalan lagi”. Saya pernah mengalami masa dimana satu-satunya pilihan yang tersedia untuk saya hanya berhenti melangkah, menyerah karana sakit tidak berdayanya. Saya telah mencuba semua cara, semua pendekatan, namun saya tak mampu membuat keadaan lebih baik. Karana itu, saya tak akan menyalahkan siapa pun diantara anda yang hendak menyerah.
Namun kemudian saya sedar. Saya telah melangkah begitu jauh. Terlalu jauh malah. Saya tidak mungkin kembali (dan perjalanan hidup adalah sama seperti perjalanan waktu, dimana sekali kita melangkah kita tak akan mampu lagi untuk undur atau kembali), namun tenaga saya untuk terus melangkah juga telah habis. Di fikiran saya hanya satu, saya harus berhenti melangkah dan duduk menunggu mati, atau mengumpulkan sisa-sisa tenaga saya untuk terus melangkah. Harapan membuat saya lebih kuat. Harapan memberikan cahaya penerangan diantara gelapnya situasi yang saya alami. Saya melangkah sedikit demi sedikit, terus berjuang menghadapi masalah yang tidak mampu saya selesaikan, sambil berharap akan muncul pertolongan, akan muncul sesuatu yang bisa menambah tenaga saya. Saya melangkah, dan terus melangkah.
Namun saya tidak berani mengharapkan keadaan akan benar-benar sama seperti apa yang saya harapkan. Mengharapkan semua tak pernah terjadi, dan mengharapkan yang terjadi adalah apa yang kita inginkan, pada waktu itu terasa begitu menakutkan. Takut untuk kecewa membuat saya berhenti berharap. Saya hanya menjaga harapan untuk berada dalam keadaan  yang sesuai. Agar saya dapat terus melangkah, tanpa terlalu banyak kecewa. Namun ternyata, setelah melangkah dan terus melangkah sekian lama, saya masih belum sampai di tempat tujuan (terselesaikannya masalah tersebut). Setiap kali harapan menipis, maka godaan untuk menyerah menjadi makin besar.
Dan dalam perjalanan itu. Perjalanan yang menyakitkan itu, saya melupakan satu hal. Bahawa bukan tujuannya yang mutlak penting, namun juga bagaimana berjalan, bagaimana menikmati kelelahan dalam perjalanan, bagaiaman memanfaatkan segala sumber tenaga yang tersedia kaya raya di sekitar kita (yang selama ini saya menutup diri darinya), dan bagaimana menikmati tiap langkah agar tidak terasa sebagai beban. Saya melupakan kebijakan yang tersimpan di balik situasi yang tengah saya alami. Saya hanya cenderung berfikir bahawa “perjalanan” saya adalah kutukan, beban dan penderitaan. Padahal, darinya, dari situasi yang menyesakkan tersebut, saya belajar begitu banyak hal. Bahkan saya menulis ini melalui serangkaian renungan.
Tiba-tiba saja, perjalanannya terasa lebih menyenangkan, karana ada hal-hal yang boleh dinikmati dan disyukuri. Meski tujuannya masih jauh (atau mungkin malah sudah dekat), saya masih boleh menikmati perjalanannya. Dan semua ini membuat saya tetap melangkah. Saat kita belum tahu kemana kehidupan akan menuju kita, maka menikmati perjalanan dan segala hal yang disajikannya adalah sesuatu yang sangat membantu, agar perjalanan kita tidak terasa seperti beban atau kutukan. Saya belajar satu hal yang sangat penting, menikmati keadaan kesukaran, sambil terus mencari kebijakan yang tersimpan di dalamnya agar semua itu tidak pergi begitu saja. Jadi, untuk pertanyaan “kemanakah perjalanan kehidupan kita?” tidak ada jawapan yang pasti. Semua begitu variatif. Namun yang pasti, melangkahlah dan terus melangkah bersama kehidupan. Nikmati segala hadiah yang disediakan dalam perjalanan itu sampai kita nanti sampai di tempat tujuan. Semakin kita peka dan tenteram dalam melangkah, semakin banyak sumber daya yang boleh kita dapatkan untuk membantu kita terus melangkah. Lalu, kita sampai pada pertanyaan yang sangat penting, bagaimanakah kita harusnya menjalani perjalanan kehidupan kita itu? Pertanyaan yang sangat sulit, namun jawapannya sangat sederhana: TERSERAH ANDA! LAH? bagaimana datangnya Ya, boleh saja. Dan memang demikian.
Tuhan telah memberikan kebebasan pada manusia. Manusia boleh terus melangkah, dan boleh menyerah. Dan kalau memutuskan untuk terus melangkah pun terserah dengan cara bagaimana. Namun ada hal-hal yang perlu kita pertimbangkan. Cara kita berjalan menentukan tenaga yang boleh kita simpan selama berada dalam perjalanan.  berhati-hati kita dalam melangkah akan membuat kita tetap berada di jalan yang benar, Jika hidup adalah sebuah perjalanan, mahukah kita tetap melangkah? Saya yakin jawapannya pasti “mahu”, asalkan kita tahu bagaimana melangkah dengan benar, bagaimana menjaga agar anda tetap berada di jalan yang benar, dan tahu bagaimana menikmati perjalanan kita itu. Lalu, pertanyaan lain yang sama pentingnya, “bagaimanakah caranya untuk menikmati sebuah perjalanan yang jauh dan kadang tak tentu arah dan tujuannya?”.
Senang saja, kawan…
Jika kita  terlalu serious,  terlalu terburu-buru, bagaimana mungkin kita boleh menikmati perjalanan kita? belajarlah membuat hidup menjadi sedikit santai. Bernyanyilah sesekali, lakukan hobi yang boleh membuat anda flow. Lakukan apa saat yang boleh membuat otak kita fresh. Latihan meditasi dan Yoga bolwh jadi adalah alternative yang bagus untuk kita. Kemudian, kita harus menemukan maksud dan tujuan dibalik perjalanan kita. cubalah untuk mengungkapkan maksud baik Tuhan dibalik semua yang kita alami, maka segalanya akan menjadi lebih meneduhkan. Hal yang membuat kita begitu terbebani dalam berbagai situasi yang kita alami adalah ketidak mampuan kita dalam mengungkapkan maksud baik Tuhan dibalik semua yang sedang kita alami itu. Lalu, kita berprasangka seolah semua yang kita alami adalah tanda kebencian Tuhan dan ketidak beruntungan nasib kita.
Jadi teruslah melangkah dengan terus menikmati perjalanan dengan cara membuat perjalanan jadi “santai”, dan mengungkap maksud baik Tuhan dibalik perjalanan yang sedang kita tempuh.

No comments:

Post a Comment